Tampilkan postingan dengan label Mikrotik. Tampilkan semua postingan
| 0 komentar

Setting OSPF Mikrotik

Setting Interface
[admin@MainRouter] > in pr

Flags: X – disabled, D – dynamic, R – running

# NAME TYPE RX-RATE TX-RATE MTU

0 R ether1=ToClient ether 0 0 1500

1 R ether2=ToInternet ether 0 0 1500


Setting IP

[admin@MainRouter] > ip add pr

Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic

# ADDRESS NETWORK BROADCAST INTERFACE

0 192.168.10.18/27 192.168.10.0 192.168.10.31 ether2=ToInternet

1 10.10.10.1/24 10.10.10.0 10.10.10.255 ether1=ToClient

2 10.10.20.1/24 10.10.20.0 10.10.20.255 ether1=ToClient


Setting Gateway (ROUTE)

[admin@MainRouter] > ip rou pr

Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic,

C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf

# DST-ADDRESS PREF-SRC G GATEWAY DIS

0 ADC 192.168.10.0/27 192.168.10.18

1 A S 0.0.0.0/0 r 192.168.10.1


Setting NAT

[admin@MainRouter] > ip fire nat pr

Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic

0 chain=srcnat out-interface=ether2=ToInternet action=masquerade


Setting DNS

[admin@MainRouter] > ip dns pr

primary-dns: 222.124.180.40

secondary-dns: 0.0.0.0

allow-remote-requests: yes

cache-size: 2048KiB

cache-max-ttl: 1w

cache-used: 20KiB


SETTING OSPF
[admin@MainRouter] > routing ospf pr

router-id: 0.0.0.0

distribute-default: if-installed-as-type-2

redistribute-connected: as-type-1

redistribute-static: as-type-2

redistribute-rip: no

redistribute-bgp: no

metric-default: 1

metric-connected: 0

metric-static: 0

metric-rip: 0

metric-bgp: 0



Setting OSPF AREA
[admin@MainRouter] > routing ospf area print

Flags: X – disabled

# NAME AREA-ID TYPE DEFAULT-COST AUTHENTICATION

0 backbone 0.0.0.0 default none

1 Local 0.0.0.1 default 1 none


Setting OSPF NETWORK
[admin@MainRouter] > routing ospf network print

Flags: X – disabled, I – invalid

# NETWORK AREA

0 10.10.10.0/24 Local

1 10.10.20.0/24 Local


Hasil Settingan di OSPF Neighbors

[admin@MainRouter] > routing ospf neighbor print

router-id=192.168.101.1 address=10.10.20.2 priority=1 state=”Full”

state-changes=4 ls-retransmits=0 ls-requests=0 db-summaries=0

dr-id=10.10.20.1 backup-dr-id=10.10.20.2


router-id=192.168.200.1 address=10.10.10.2 priority=1 state=”Full”

state-changes=8 ls-retransmits=0 ls-requests=0 db-summaries=0

dr-id=10.10.10.1 backup-dr-id=10.10.10.2


router-id=192.168.10.18 address=10.10.20.1 priority=1 state=”2-Way”

state-changes=0 ls-retransmits=0 ls-requests=0 db-summaries=0

dr-id=10.10.20.1 backup-dr-id=10.10.20.2



Hasil Akhir Settingan di IP ROUTE

[admin@MainRouter] > ip rou pr

Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic,

C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf

# DST-ADDRESS PREF-SRC G GATEWAY DIS

0 ADC 10.10.10.0/24 10.10.10.1

1 Do 10.10.10.0/24

2 ADC 10.10.20.0/24 10.10.20.1

3 Do 10.10.20.0/24

4 ADC 192.168.10.0/27 192.168.10.18

5 ADo 192.168.100.0/30 r 10.10.10.2

6 ADo 192.168.101.0/24 r 10.10.20.2

7 ADo 192.168.200.0/30 r 10.10.10.2

8 A S 0.0.0.0/0 r 192.168.10.1


SETTING OSPF CLIENT1

[admin@Client1=RouterBoard] > in pr

Flags: X – disabled, D – dynamic, R – running

# NAME TYPE RX-RATE TX-RATE MTU

0 R ether1=ToMainRouter ether 0 0 1500

1 R ether2=ToLocal ether 0 0 1500

2 R ether3 ether 0 0 1500

3 wlan1 wlan 0 0 1500

4 X wlan2 wlan 0 0 1500


[admin@Client1=RouterBoard] > ip add pr

Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic

# ADDRESS NETWORK BROADCAST INTERFACE

0 10.10.10.2/24 10.10.10.0 10.10.10.255 ether1=ToMainRouter

1 192.168.100.1/30 192.168.100.0 192.168.100.3 ether2=ToLocal

2 192.168.200.1/30 192.168.200.0 192.168.200.3 wlan1


[admin@Client1=RouterBoard] > ip dns pr

primary-dns: 0.0.0.0

secondary-dns: 0.0.0.0

allow-remote-requests: no

cache-size: 2048KiB

cache-max-ttl: 1w

cache-used: 17KiB


[admin@Client1=RouterBoard] > rou ospf pr

router-id: 0.0.0.0

distribute-default: never

redistribute-connected: as-type-1

redistribute-static: no

redistribute-rip: no

redistribute-bgp: no

metric-default: 1

metric-connected: 0

metric-static: 0

metric-rip: 0

metric-bgp: 0


[admin@Client1=RouterBoard] > rou ospf area pr

Flags: X – disabled

# NAME AREA-ID TYPE DEFAULT-COST AUTHENTICATION

0 backbone 0.0.0.0 default none

1 Local 0.0.0.1 default 1 none


[admin@Client1=RouterBoard] > rou ospf network pr

Flags: X – disabled, I – invalid

# NETWORK AREA

0 10.10.10.0/24 Local

1 10.10.20.0/24 Local



[admin@Client1=RouterBoard] > ip route pr

Flags: X – disabled, A – active, D – dynamic,

C – connect, S – static, r – rip, b – bgp, o – ospf

# DST-ADDRESS PREF-SRC G GATEWAY DIS

0 ADC 10.10.10.0/24 10.10.10.2

1 Do 10.10.10.0/24

2 ADC 192.168.100.0/30 192.168.100.1

3 ADC 192.168.200.0/30 192.168.200.1
Read more...
| 0 komentar

NAT agar client mikrotik bisa create DOTA

/ip firewall nat
add chain=dstnat action=dst-nat to-addresses=[ip-client] to-ports=6113 dst-address=[ip-public] dst-port=6113 protocol=tcp

add chain=dstnat action=dst-nat to-addresses=[ip-client] to-ports=6113 dst-address=[ip-public] dst-port=6113 protocol=udp

Cukup 2 rule ajah 1 lan dijamin bisa join :D
Read more...
| 0 komentar

Melakukan Shaper Secara Quota

Bagi banyak orang yang berkecimpung di RT/RW-net atau ISP atau WARNET, sering kali yang menjadi masalah adalah kehadiran pelanggan yang 'MANIAK DOWNLOAD' dimana bandwidth kita akan tersedot habis oleh 1 orang user yang nota bene membayar sama dengan yang lain namun berdampak sangat buruk bagi yang lain.


Gara-gara satu orang user, maka kita terpaksa dikomplain seluruh pelanggan yang lain. Namun untuk memberikan peringatan pada satu orang itu, rasanya juga sulit karena dia merasa membayar sehingga merasa berhak untuk menggunakan akses internet sesuka hati.

Ada cara yang cukup efektif untuk menahan hal semacam ini dengan cara membuat shaper berbasis quota. Misalnya begini : jika pemakaian download masih dibawah 75 MB maka user akan mendapat kecepatan maksimal 128 kbps. Tapi jika dia sudah menggunakan lebih dari 75 MB tapi masih kurang dari 150 MB, maka kecepatannya menurun menjadi hanya 92 kbps. Tapi kalau dia sudah mendownload lebih dari 150 MB, maka kecepatannya kita batasi hanya tersisa 64 kbps.

Cara untuk melakukan hal semacam itu adalah dengan memasang script berikut ini :

/queue simple
:local traf;
:local maxi;
:set traf [get [find name=""] total-bytes]
:set maxi [get [find name=""] max-limit]
:set ips [get [find name=""] target-address]
:if ($traf > 150000000) do = { :log info "Si Eddy sudah melampaui 150MB";
set [find name=""] max-limit= "64000/64000"}
:if ($traf < do =" {" name="">"] max-limit= "92000/92000"}
:if ($traf < do =" {" name="">"] max-limit= "128000/128000"}

Keterangan :

*

150000000 : artinya 150 MB
*

: adalah nama queue yang sudah kita setting di queue simple list
*

:log info : untuk membuat keterangan dibagian LOG agar kita bisa lihat proses yang dijalankan
* max-limit adalah perintah untuk melakukan perubahan limiter

Script ini kita letakkan di bagian /system scheduler dengan menambahkan schedule (misalnya):

start-date=feb/20/2009 start-time=02:25:00 interval=30m

Kemudian pada bagian on-event kita tuliskan script kita tersebut di atas. Artinya, setiap 30 menit sekali, mikrotik akan menjalankan script cek tadi dan user eddy akan diaudit setiap 30 menit sekali. Dengan demikian setiap 30 menit akan dicek pemakaian si eddy apakah sudah melampaui batas atau belum.

Kita bisa mengatur interval menjadi lebih cepat ataupun lebih lambat sesuai dengan kehendak kita. Selamat mencoba dan semoga berguna.

Source : klik sini
Read more...
| 0 komentar

Memisahkan Bw Lokal & International

Selama mengelola Mikrotik Indonesia, banyak sekali muncul pertanyaan bagaimana cara melakukan pemisahan queue untuk trafik internet internasional dan trafik ke internet Indonesia (OpenIXP dan IIX). Di internet sebetulnya sudah ada beberapa website yang menampilkan cara pemisahan ini, tapi kami akan coba menampilkan kembali sesederhana mungkin supaya mudah diikuti.

Pada artikel ini, kami


mengasumsikan bahwa:

1. Router Mikrotik melakukan Masquerading / src-nat untuk client. Client menggunakan IP privat.
2. Gateway yang digunakan hanya satu, baik untuk trafik internasional maupun IIX.
3. Anda bisa menggunakan web-proxy internal ataupun tanpa web-proxy. Jika Anda menggunakan web-proxy, maka ada beberapa tambahan rule yang perlu dilakukan. Perhatikan bagian NAT dan MANGLE pada contoh di bawah ini.

Jika ada parameter di atas yang berbeda dengan kondisi Anda di lapangan, maka konfigurasi yang ada di artikel ini harus Anda modifikasi sesuai dengan konfigurasi network Anda.
network diagram

Pengaturan Dasar

Berikut ini adalah diagram network dan asumsi IP Address yang akan digunakan dalam contoh ini.

Untuk mempermudah pemberian contoh, kami mengupdate nama masing-masing interface sesuai dengan tugasnya masing-masing.

[admin@MikroTik] > /interface pr

Flags: X - disabled, D - dynamic, R - running

# NAME TYPE RX-RATE TX-RATE MTU

0 R ether-public ether 0 0 1500

1 R ether-local ether 0 0 150

Untuk klien, akan menggunakan blok IP 192.168.0.0/24, dan IP Address 192.168.0.1 difungsikan sebagai gateway dan dipasang pada router, interface ether-local. Klien dapat menggunakan IP Address 192.168.0-2 hingga 192.168.0.254 dengan subnet mask 255.255.255.0.

[admin@MikroTik] > /ip ad pr

Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic

# ADDRESS NETWORK BROADCAST INTERFACE

0 202.0.0.1/24 202.0.0.0 202.0.0.255 ether-public

1 192.168.0.1/24 192.168.0.0 192.168.0.255 ether-local

Jangan lupa melakukan konfigurasi DNS server pada router, dan mengaktifkan fitur "allow remote request".

Karena klien menggunakan IP private, maka kita harus melakukan fungsi src-nat seperti contoh berikut.

[admin@MikroTik] > /ip fi nat pr

Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic

0 chain=srcnat out-interface=ether-public

action=masquerade

Jika Anda menggunakan web-proxy transparan, Anda perlu menambahkan rule nat redirect, seperti terlihat pada contoh di bawah ini (rule tambahan yang tercetak tebal).

[admin@MikroTik] > /ip fi nat pr

Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic

0 chain=srcnat out-interface=ether-public

action=masquerade

1 chain=dstnat in-interface=ether-local protocol=tcp

dst-port=80 action=redirect to-ports=8080

Jangan lupa mengaktifkan fitur web-proxy, dan men-set port layanan web-proxynya, dan disesuaikan dengan port redirect pada contoh di atas.

CEK: Pastikan semua konfigurasi telah berfungsi baik. Lakukanlah ping (baik dari router maupun dari klien) ke luar network Anda secara bergantian.

Pengaturan IP Address List

Mulai Mikrotik RouterOS versi 2.9, dikenal dengan fitur yang disebut IP Address List. Fitur ini adalah pengelompokan IP Address tertentu dan setiap IP Address tersebut bisa kita namai. Kelompok ini bisa digunakan sebagai parameter dalam mangle, firewall filter, nat, ataupun queue.

Mikrotik Indonesia telah menyediakan daftar IP Address yang diadvertise di OpenIXP dan IIX, yang bisa didownload dengan bebas di URL: http://www.mikrotik.co.id/getfile.php?nf=nice.rsc

File nice.rsc ini dibuat secara otomatis di server Mikrotik Indonesia setiap pagi sekitar pk 05.30, dan merupakan data yang telah di optimasi untuk menghilangkan duplikat entry dan tumpang tindih subnet. Saat ini jumlah baris pada script tersebut berkisar 430 baris.

Contoh isi file nice.rsc :

# Script created by: Valens Riyadi @ www.mikrotik.co.id

# Generated at 26 April 2007 05:30:02 WIB ... 431 lines

/ip firewall address-list

add list=nice address="1.2.3.4"

rem [find list=nice]

add list=nice address="125.162.0.0/16"

add list=nice address="125.163.0.0/16"

add list=nice address="152.118.0.0/16"

add list=nice address="125.160.0.0/16"

add list=nice address="125.161.0.0/16"

add list=nice address="125.164.0.0/16"

.

.

dst...

Simpanlah file tersebut ke komputer Anda dengan nama nice.rsc, lalu lakukan FTP ke router Mikrotik, dan uploadlah file tersebut di router. Contoh di bawah ini adalah proses upload menggunakan MS-DOS prompt.

C:>dir nice.*

Volume in drive C has no label.

Volume Serial Number is 5418-6EEF



Directory of C:

04/26/2007 06:42p 17,523 nice.rsc

1 File(s) 17,523 bytes

0 Dir(s) 47,038,779,392 bytes free



C:>ftp 192.168.0.1

Connected to 192.168.0.1.

220 R&D FTP server (MikroTik 2.9.39) ready

User (192.168.0.1:(none)): admin

331 Password required for admin

Password: ********

230 User admin logged in



ftp> ascii

200 Type set to A

ftp> put nice.rsc



200 PORT command successful

150 Opening ASCII mode data connection for '/nice.rsc'

226 ASCII transfer complete

ftp: 17523 bytes sent in 0.00Seconds 17523000.00Kbytes/sec.



ftp> bye

221 Closing



C:>

Setelah file diupload, import-lah file tersebut.

[admin@MikroTik] > import nice.rsc



Opening script file nice.rsc

Script file loaded and executed successfully



Pastikan bahwa proses import telah berlangsung dengan sukses, dengan mengecek Address-List pada Menu IP - Firewall
address list nice

Proses upload ini dapat juga dilakukan secara otomatis jika Anda memiliki pengetahuan scripting. Misalnya Anda membuat shell script pada Linux untuk melakukan download secara otomatis dan mengupload file secara otomatis setiap pk 06.00 pagi. Kemudian Anda tinggal membuat scheduler pada router untuk melakukan import file.

Jika Anda menggunakan RouterOS versi 3.x, proses update juga dapat dilakukan secara otomatis.

Perintah yang perlu dibuat adalah :
/system sched add comment=”update-nice” disabled=no interval=1d name=”update-nice-rsc” on-event=”:if ([/file find name=nice.rsc] > 0) do={/file remove nice.rsc }; /tool fetch address=ixp.mikrotik.co.id src-path=/download/nice.rsc;/import nice.rsc” start-date=jan/01/1970 start-time=00:06:00

Pengaturan Mangle
Langkah selanjutnya adalah membuat mangle. Kita perlu membuat 1 buah connection mark dan 2 buah packet mark, masing-masing untuk trafik internasional dan lokal.

/ip firewall mangle add chain=prerouting in-interface=LAN dst-address-list=nice action=mark-connection new-connection-mark=IIX passthrough=yes

/ip firewall mangle add chain=prerouting connection-mark=IIX action=mark-packet new-packet-mark=IIX passthrough=no

/ip firewall mangle add chain=prerouting action=mark-packet new-packet-mark=IX passthrough=yes

/ip firewall mangle add chain=output connection-mark=IIX action=mark-packet new-packet-mark=IIX passthrough=no

/ip firewall mangle add chain=output action=mark-packet new-packet-mark=IX passthrough=no

Ket : IIX = international
IX = lokal

Untuk rule #0, pastikanlah bahwa Anda memilih interface yang mengarah ke client. Untuk chain, kita menggunakan prerouting, dan untuk kedua packet-mark, kita menggunakan passthrough=no.


Source : klik sini
Read more...